SELAMAT DATANG !

Selamat datang !, kami menghargai anda untuk berbagi ilmu,pengetahuan dan saran-saran yang membangun . Kirim via email : Wyudiani@yahoo.com atau yudiedu99@gmail.com Bravo semuanya.

Translate

Friday, 2 November 2012

tak terasa

 
Rambut hitam yang dulu kini perlahan-lahan memutih menutupi kepalaku
Seperti musim salju di pyongyang yang kian lama menutupi seluruh kota itu
Kulit yang membalut dalam setiap tulang-tulang yang tegak perlahan pasti Kusam dan keriput bak buah mangga yang tergeletak pada meja kusam nan tak kuat berdiri

Tak terasa senja sore menjemputku
Dan Tuhan menegurnya Melalui kenikmatan yang kini berkurang adanya

Lidah sebagai pengecap rasa juga berkurang kadarnya
Mata yang dulu memancar terang tak ada lagi dan kabur
Masihkah kita berdalih sebagai makhluk yang kuat dan takabur

Tak terasa senja sore menjemputku
Melalui kenikmatan yang kini berkurang adanya Rambut yang memutih

Kulit yang kusam,mata kabur dan semua rasa yang hambar
Adalah tamu-tamu Tuhan untuk mengingatkanku
Pundi-pundi kebaikankah yang terkumpul atau sebaliknya

Kuberharap teman sejatiku tidak hanya sepi,kelam dan gulita
Asaku amal yang baik dan doa anak-anaku yang soleh
Mengirimkan senandung surgawi yang penuh kenikmatan
Dan kesenangan yang hakiki di alam kubur nanti
Ketulusan dan kesholehan Bunda bundadariku
Melengkapi kebahagianku yang tak terhingga untuk memenuhi panggilanNya.

Tak terasa senja sore menjemputku
Melalui kenikmatan yang kini berkurang adanya
(By Guslan, saat senja sore menjemputku, 00.00 wib,09-09-2012 )  

Read more »

Saturday, 22 September 2012

TUJUAN KESEHATAN DAN KESELAMATAN KERJA


a) Mencegah terjadinya kecelakaan kerja. b) Mencegah timbulnya penyakit akibat suatu pekerjaan. c) Mencegah/ mengurangi kematian. d) Mencegah/mengurangi cacat tetap. e) Mengamankan material, konstruksi, pemakaian, pemeliharaan bangunan, alat-alat kerja, mesin-mesin, instalasi dan lain sebagainya. f) Meningkatkan produktivitas kerja tanpa memeras tenaga kerja dan menjamin kehidupan produktifnya. g) Mencegah pemborosan tenaga kerja, modal, alat dan sumber-sumber produksi lainnya. h) Menjamin tempat kerja yang sehat, bersih, nyaman dan aman sehingga dapat menimbulkan kegembiraan semangat kerja. i) Memperlancar, meningkatkan dan mengamankan produksi industri serta pembangunan.

Read more »

Tuesday, 24 July 2012

KARTU BERKARAKTER

Read more »

Friday, 2 March 2012

UJI KOMPETENSI DASAR GURU HONOR DISIAPKAN




Depok --- Kementerian Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi meminta Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan menyiapkan uji kompetensi dasar bagi guru honorer. Uji kompetensi ini untuk menyeleksi guru honorer yang akan diangkat menjadi pegawai negeri sipil (PNS). "Kalau formasi Kementerian Pendayaangunaan Aparatur Negara yang menetapkan, kami diminta untuk lakukan seleksi kompetensi," ujar Wakil Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Bidang Pendidikan Musliar Kasim, di Pusat Pengembangan Pendidik dan Tenaga Kependidikan Kemdikbud, Bojongsari, Depok, Selasa (28/02).

Dari 650 ribu orang guru honorer yang ada di seluruh Indonesia saat ini, Musliar menyatakan, hanya 30 persen yang akan diangkat menjadi PNS. Selain alasan anggaran, pengangkatan guru honorer juga harus berdasarkan kompetensi. "Jangan sampai ketika diangkat, tapi kompetensinya tidak ada," tuturnya.
Guru honorer yang diangkat nanti tidak selalu akan ditempatkan di daerahnya. Penempatan akan disesuaikan dengan kebutuhan guru di suatu tempat. "Misalkan ada Guru A di daerah B yang sudah cukup gurunya, maka akan ditempatkan di daerah C yang kekurangan,"  ujar Musliar memaparkan.
Untuk mengatasi kekurangan guru saat ini, kata Musliar, pemerintah daerah bisa menggunakan Surat Keputusan Bersama (SKB) lima menteri yang telah ditandatangani tahun 2011 lalu dalam mendistribusi ulangguru. "Dalam SKB dinyatakan, sudah sepakat untuk melakukan distribusi ulang," ucapnya. (AR)
sumber : http://www.kemdiknas.go.id/laman/berita/275


Read more »

Friday, 3 February 2012

PT KERETAAPI INDONESIA (PERSERO ) MENERIMA PEGAWAI BARU


PT KERETA API INDONESIA ( PERSERO) memberikan kesempatan kepada putra-putra terbaik Indonesia untuk menjadi Calon Masinis dengan ketentuan sebagai berikut :

KRITERIA PELAMAR :
1. Warga Negara Indonesia
2. Jenis Kelamin Pria
3. Usia per-31 Januari 2012 maksimal 30 tahun
4. Tinggi/berat badan minimal 160 cm (berat badan ideal)
5. Berijazah SMA IPA/SMK ( Mesin Otomotif/Listrik/Elektronika) dengan NEM rata-rata sekurang-kurangnya 6,00
6. Sehat jasmani dan rohani serta tidak buta warna
7. Berkelakuan bai ,bebas Narkoba dan tidak pernah terlibat Psikotropia
8. Tidak bertato dan /bertindik
9. Melakukan regristasi online mulai tanggal 4 s.d 12 Februari 2012 dan mengupload di web persyaratan sebagai berikut :
     a. Fotocopy ijazah legalisir
     b. Fotocopy NEM Legalisir
     c. Fotocopy KTP Yang masih berlaku
     d. Pas foto berwarna terbaru

Ketentuan dan persyaratan lainnya dapat dilihat www.rekrut.kereta-api.co.id



Read more »

Tuesday, 24 January 2012

MELATIH BARIS-BERBARIS



Baris-berbaris merupakan bagian dari materi pendidikan pendahuluan bela negara (PP-BN) yang harus kita latihkan kepada peserta didik. Karena baik buruknya hasil latihan, ter-gantung kepada tingkat pengetahuan dan penghayatan akan maksud serta tujuan dan kesungguhan sang pelatih atau pembina dalam melatihkan sesuatu, termasuk PBB. Maka alangkah baiknya kita mengetahui sasaran pokok yang ingin dicapai dari latihan baris-berbaris, diantaranya :

1.      Menumbuhkan kesadaran berdisiplin diri dan kolektif.
2.      Memupuk rasa/jiwa persatuan, kebersa-maan dan kekompakan.
3.      Memupuk rasa tanggung jawab.
4.      Memupuk kesadaran untuk melaksanakan perintah dengan cepat dan tepat.

Untuk membuka wawasan pemahaman terhadap konsep dasar tersebut di atas, sebaik-nya kita samakan terlebih dahulu persepsi akan definisi disiplin, persatuan, tanggung jawab dan perintah.

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, pengertian disiplin adalah ketaatan atau kepa-tuhan kepada peraturan atau tata tertib. Persa-tuan berarti ikatan jiwa/rasa atau batin senasib sepenanggungan. Tanggung jawab artinya ke-siapan dan keberanian menerima pembebanan atas apa yang dilakukan, sedangkan melaksa-nakan perintah dengan cepat dan tepat, mak-sudnya tidak menunda sesuatu yang harus dilakukan untuk dikerjakan disaat yang lain.

Setelah kita sepaham atas pengertian di atas, mari kita kaji nilai-nilai yang terkandung secara filosofis yang dapat diterapkan melalui latihan baris-berbaris.

Baris-berbaris merupakan keterampilan individu yang tidak mudah dilakukan bila berke-lompok tanpa disertai sikap disiplin, persatuan/ kebersamaan atau kompak dengan kecepatan melakukan sesuai perintah pimpinan atau pem-beri aba-aba. Seseorang yang mahir baris-berbaris, paham akan semua peraturannya dan pelatih sekalipun, tidak akan mudah melakukan secara berkelompok tanpa memiliki sikap koo-peratif dalam dirinya.

Misalnya : Salah seorang anggota regu dengan sengaja melalaikan perintah atau aba-aba maju jalan, dimanapun posisi dia berdiri akan menggangu. Jika tidak tertabrak mungkin tertinggal, sehingga keutuhan dan kekompakan regu kacau dengan sendirinya. Begitulah dalam kehidupan kita, karena ketidakdisiplinan satu orang, kacaulah semua tatanan kehidupan, sebagaimana kita rasakan akhir-akhir ini dalam kehidupan di negara kita.
Untuk mengetahui lebih jauh tentang teknis-teknis sederhana melatih baris-berbaris dan sekaligus mengenal berbagai peraturan-nya, sebaiknya kakak ikuti dalam edisi-edisi berikutnya.
Aba-aba adalah peritah seorang komandan atau pimpinan kepada pasukan untuk dilak-sanakan secara serentak atau berturut-turut.
Sebelum kita membi-carakan macam dan con-toh aba-aba, terlebih da-hulu saya bahas menge-nai cara memberi aba-aba yang baik dan benar.
1.      Memberi aba-aba ha-rus dilakukan dalam ke-adaan sikap sempurna dan menghadap kepada pasukan, kecuali saat latihan baris-berbaris, pelatih dapat memberi aba-aba tanpa menghadap pasukan, dengan syarat setiap aba-aba tanpa menghadap pasukan dan diberikan tetap pada sikap sempurna.
2.      Semua aba-aba di-ucapkan dengan suara nyaring yang disesuaikan dengan besar kecilnya pa-sukan, tegas dan berse-mangat.
3.      Dalam memberi aba-aba petunjuk yang di-rangkai dengan aba-aba perintah dan pelaksanaan, pengucapannya tidak di-berikan nada.
4.      Aba-aba pelaksanaan senantiasa diucapkan de-ngan cara disentakan dan terputus.
5.      Pengucapan antara aba-aba peringatan dan aba-aba pelaksanaan harus ada interval dan tidak boleh memberi keterangan lain.
6.      Apabila ada satu bagian aba-aba yang harus dibetulkan, maka dikeluarkan perintah “ulangi !” yang diucap-kan oleh pemberi aba-aba, bukan oleh pasukan.
7.      Gerakan yang tidak termasuk dalam bagian dari aba-aba, tetapi harus dilakukan atau dilaksana-kan, dapat diberi petun-juk dengan suara nyaring, tegas dan bersemangat. Hal ini biasanya dipergunakan pada saat dilapangan, misalnya dalam suatu perjalanan.
Contoh :
Pinru : “ Depan tongkat, hadap kanan, maju ikuti saya.”

Read more »

Tuesday, 17 January 2012

PENDIDIKAN BERWAWASAN GLOBAL


Krisis demi krisis mulai dari moneter, ekonomi, politik dan kepercayaan yang tengah melanda bangsa Indonesia, merupakan bukti bahwa sebagai bangsa kita sudah terseret dalam arus globalisasi. Informasi bergerak sedemikian cepat sehingga menimbulkan dampak yang berantai. Demonstrasi menduduki bandara cepat menjadi mode, misalnya.
 
Pendidikan memiliki keterkaitan erat dengan globalisasi. Pendidikan tidak mungkin menisbikan proses globalisasi yang akan mewujudkan masyarakat global ini. Dalam menuju era globalisasi, Indonesia harus melakukan reformasi dalam proses pendidikan, dengan tekanan menciptakan sistem pendidikan yang lebih komprehensif dan fleksibel, sehingga para lulusan dapat berfungsi secara efektif dalam kehidupan masyarakat global demokratis. Untuk itu, pendidikan harus dirancang sedemikian rupa yang memungkinkan para peserta didik mengembangkan potensi yang dimiliki secara alami dan kreatif dalam suasana penuh kebebasan, kebersamaan dan tanggung jawab. Di samping itu, pendidikan harus menghasilkan lulusan yang dapat memahami masyarakatnya dengan segala faktor yang dapat mendukung mencapai sukses ataupun penghalang yang menyebabkan kegagalan dalam kehidupan bermasyarakat. Salah satu altematif yang dapat dilakukan adalah mengembangkan pendidikan yang berwawasan global.
 
Premis untuk memulai pendidikan berwawasan gobal adalah bahwa informasi dan pengetahuan tentang bagian dunia yang lain harus mengembangkan kesadaran kita bahwa kita akan dapat memahami lebih baik keadaan diri kita sendiri apabila kita memahami hubungan dengan masyarakat lain dan isu-isu global sebagaimana dikemukakan oleh  Psikolog Csikszentmihalyi dalam bukunya The Evolving Self: A Psychology for the Third Millenium, 1993, yang menyatakan bahwa perkembangan pribadi yang seimbang dan sehat memerlukan "an understanding of the complexities of an increasingly complex and interdependent world".
 
A. Perspektif kurikuler
 
Pendidikan berwawasan global dapat dikaji berdasarkan dua perspektif: Kurikuler dan perspektif Reformasi. Berdasarkan perspektif kurikuler, pendidikan berwawasan global merupakan suatu proses pendidikan yang bertujuan untuk mempersiapkan tenaga terdidik kelas menengah dan profesional dengan meningkatkan kemampuan individu dalam memahami masyarakatnya dalam kaitan dengan kehidupan masyarakat dunia, dengan ciri-ciri: a) mempelajari budaya, sosial, politik dan ekonomi bangsa lain dengan titik berat memahami adanya saling ketergantungan, b) mempelajari berbagai cabang ilmu pengetahuan untuk dipergunakan sesuai dengan kebutuhan lingkungan setempat, dan, c) mengembangkan berbagai kemungkinan berbagai kemampuan dan keterampilan untuk bekerjasama guna mewujudkan kehidupan masyarakat dunia yang lebih baik.
 

Read more »

Sunday, 15 January 2012

PARADIGMA PENDIDIKAN MASA DEPAN



Pendidikan dalam arti luas adalah proses yang berkaitan dengan upaya untuk mengembangkan pada diri seseorang tiga aspek dalam kehidupannya, yakni, pandangan hidup, sikap hidup dan keterampilan hidup. Upaya untuk mengembangkan ketiga aspek tersebut bisa dilaksanakan di sekolah, luar sekolah dan keluarga. Kegiatan di sekolah direncanakan dan dilaksanakan secara ketat dengan prinsip-prinsip yang sudah ditetapkan. Pelaksanaan di luar sekolah, meski memiliki rencana dan program yang jelas tetapi pelaksanaannya relatif longgar dengan berbagai pedoman yang relatif fleksibel disesuaikan dengan kebutuhan dan kondisi lokal. Pelaksanaan pendidikan dalam keluarga dilaksanakan secara informal tanpa tujuan yang dirumuskan secara baku dan Tertulis.
 
Dengan mendasarkan pada konsep pendidikan tersebut di atas, maka sesungguhnya pendidikan merupakan pembudayaan atau "enculturation", suatu proses untuk mentasbihkan seseorang mampu hidup dalam suatu budaya tertentu. Konsekuensi dari pemyataan ini, maka praktek pendidikan harus sesuai dengan budaya masyarakat akan menimbulkan penyimpangan yang dapat muncul dalam berbagai bentuk goncangan-goncangan kehidupan individu dan masyarakat.
 
Tuntutan keharmonisan antara pendidikan dan kebudayaan bisa pula dipahami, sebab praktek pendidikan harus mendasarkan pada teori-teori pendidikan dan giliran berikutnya teori-teori pendidikan harus bersumber dari suatu pandangan hidup masyarakat yang bersangkutan.
 
A. Praktek pendidikan modern
 
Bangsa Indonesia telah mengalami berbagai bentuk praktek pendidikan: praktek pendidikan Hindu, pendidikan Budhis, pendidikan Islam, pendidikan zaman VOC, pendidikan kolonial Belanda, pendidikan zaman pendudukan Jepang, dan pendidikan zaman setelah kemerdekaan (Somarsono, 1985). Berbagai praktek pendidikan memiliki dasar filosofis dan tujuan yang berbeda-beda. Beberapa praktek pendidikan yang relevan dengan pembahasan ini adalah praktek-praktek pendidikan modern zaman kolonial Belanda, praktek pendidikan zaman kemerdekaan sampai pada tahun 1965, dan praktek pendidikan dalam masa pembangunan sampai sekarang ini.
 
Praktek pendidikan zaman kolonial Belanda ditujukan untuk mengembangkan kemampuan penduduk pribumi secepat-cepatnya melalui pendidikan Barat. Diharapkan praktek pendidikan Barat ini akan bisa mempersiapkan kaum pribumi menjadi kelas menengah baru yang mampu menjabat sebagai "pangreh praja". Praktek pendidikan kolonial ini tetap menunjukkan diskriminasi antara anak pejabat dan anak kebanyakan. Kesempatan luas tetap saja diperoleh anak-anak dari lapisan atas. Dengan demikian, sesungguhnya tujuan pendidikan adalah demi kepentingan penjajah untuk dapat melangsungkan penjajahannya. Yakni, menciptakan tenaga kerja yang bisa menjalankan tugas-tugas penjajah dalam mengeksploitasi sumber dan kekayaan alam Indonesia. Di samping itu, dengan pendidikan model Barat akan diharapkan muncul kaum bumi putera yang berbudaya barat, sehingga tersisih dari kehidupan masyarakat kebanyakan. Pendidikan zaman Belanda membedakan antara pendidikan untuk orang pribumi. Demikian pula bahasa yang digunakan berbeda. Namun perlu dicatat, betapapun juga pendidikan Barat (Belanda) memiliki peran yang penting dalam melahirkan pejuang-pejuang yang akhirnya berhasil melahirkan kemerdekaan Indonesia.
 

Read more »