SELAMAT DATANG !

Selamat datang !, kami menghargai anda untuk berbagi ilmu,pengetahuan dan saran-saran yang membangun . Kirim via email : Wyudiani@yahoo.com atau yudiedu99@gmail.com Bravo semuanya.

Translate

Thursday, 14 May 2015

PENGUMUMAN KELULUSAN SISWA SMK KAMPUNG JAWA TAHUN PELAJARAN 2014-2015

Berdasarkan hasil rapat  Kelulusan Dewan Guru  SMK Kampung Jawa  Tahun Pelajaran 2014-2015 Pada Hari Rabu, 13 Mei 2015 Memutuskan seperti data dibawah ini,,,,














Demikianlah pengumuman kelulusan ini disampaikan. Terima Kasih.

Catatan :

  1. Pembagian Rapot di jadualkan pada Hari   Kamis, 21 Mei 2015 sesuai wali kelas masing-masing, Pukul 08.00-10.00 Wib, bertempat di SMK Kampung Jawa.
  2. Pembagian ijazah di infokan menyusul menunggu berita dari Dinas Pendidikan.
  3. Jika membutuhkan Surat Keterangan Lulus dari Sekolah ,untuk keperluan Bekerja bisa menghubungi Bapak Jaka Sumargana (Ka Bag TU SMK Kampung Jawa ).

Read more »

Monday, 27 April 2015

SERTIFIKASI GURU DAN INPASSING GBPNS : PROGRAM SETENGAH HATI ATAU SIMALAKAMA


SERTIFIKASI GURU DAN INPASSING GBPNS : PROGRAM SETENGAH HATI ATAU SIMALAKAMA 





Undang-Undang Guru dan Dosen (UUGD) menyatakan bahwa sertifikasi sebagai bagian dari peningkatan mutu guru dan peningkatan kesejahteraannya (Muslich, 2007: 7). Di samping itu, guru yang memiliki sertifikat pendidik, berhak mendapatkan insentif yang berupa tunjangan profesi. Besar insentif tunjangan profesi yang dijanjikan oleh UUGD adalah sebesar satu kali gaji pokok untuk setiap bulannya. 

Dengan adanya peningkatan kesejahteraan guru diharapkan akan terjadi peningkatan mutu pendidikan nasional dari segi proses yang berupa layanan dan hasil yang berupa luaran pendidikan. Peraturan Pemerintah No. 19 Tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan secara eksplisit mengisyaratkan adanya standarisasi isi, proses, kompetensi lulusan, pendidik dan tenaga kependidikan, sarana dan prasarana, pengelolaan, pembiayaan, dan penilaian pendidikan dalam mencapai tujuan pendidikan nasional. Dengan adanya sertifikasi pendidik, diharapkan kompetensi guru sebagai pengajar akan meningkat sesuai dengan standar yang telah ditetapkan. Dengan kompetensi guru yang memenuhi standar minimal dan kesejahteraan yang memadai diharapkan kinerja guru dalam mengelola proses pembelajaran dapat meningkat. Oleh karena itu, diharapkan akan terjadinya peningkatan hasil belajar siswa. 

Memang betul setelah adanya tunjangan sertifikasi ,kesejahteraan guru meningkat tentunya ini juga dibarengi oleh kualitas guru sehingga pemerintah tidak akan sia-sia mengeluarkan triliuran rupiah kepada semua guru di seluruh Indonesia. Apalagi bagi guru swasta sangat membantu sekali untuk menambah kesejahteraan keluarganya. Coba kalau lihat penghasilan bagi guru-guru swasta di seluruh daerah-daerah Indonesia yang notabene dengan yayasan yang menengah kebawah sungguh memperhatinkan .Sehingga tepatlah bahwa tunjangan sertifikasi memberikan dampak yang positif terutama semangat kerja untuk mendidik ,memotivasi anak-anak didiknya,membina watak anak bangsa ini, Yang hanya dipikirkan tidak lain bagaimana prestasi untuk anak-anak bangsa ini. Dulu ketika belum ada tunjangan sertifikasi banyak guru-guru kita tapi tidak semuanya yang kerja sambilan diluar kerja sebagai guru karena penghasilan dari mengajar saja tidak cukup memenuhi kebutuhan keluarganya, ada yang mengojek motor,.Ada juga sebagai loper koran tambah pula mengajar les hingga larut malam. Bayangkan jika seorang guru ditambah lagi dengan pekerjaan tersebut bagaimana mungkin esoknya bisa mengajar dengan baik. Oleh karena itu tunjangan sertifikasi memberikan secercah harapan bagi guru pada umumnya. Dengan demikian diharapkan tak ada lagi guru yang mengojek,pulang larut malam karena sudah terbayang ada pengganti lelah itu dengan konsekuensi logisnya menggantinya dengan kualitas mengajar yang baik. 

Namun kini tunjangan sertifikasi tidak lagi menjadi sebuah harapan,impian lagi bagi guru-guru sehingga kini akhirnya mereka kembali lagi seperti dulu. Karena perut anak-anak ,istri tidak mau menunggu sampai 3 bulan atau menunggu berbulan-bulan. Hari ini ya hari ini!. Mereka harus makan. Bahkan lebih mirisnya seperti di beritakan Tribun news.com (2015) seorang guru PPKn di Ponorogo depresi gantung diri karena menunggu tunjangan sertifikasi yang tak kunjung keluar. Seperti yang dikutip WHO memperkirakan depresi akan menjadi penyebab utama masalah penyakit dunia pada tahun 2020. Organisasi kesehatan itu mencatat depresi adalah gangguan mental yang umum terjadi di antara populasi. Diperkirakan 121 juta manusia di muka bumi ini menderita depresi. Dari jumlah itu 5,8 persen laki-laki dan 9,5 persen perempuan, dan hanya sekitar 30 persen penderita depresi yang benar-benar mendapatkan pengobatan yang cukup, sekalipun telah tersedia teknologi pengobatan depresi yang efektif. Ironisnya, mereka yang menderita depresi berada dalam usia produktif, yakni cenderung terjadi pada usia kurang dari 45 tahun. Tidaklah mengherankan, bila diperkirakan 60 persen dari seluruh kejadian bunuh diri terkait dengan depresi (termasuk skizofrenia). Nah, guru masuk menjadi bagian yang rentan terkena depresi. Dampak yang lainnya barangkali mengajarpun hanya sekedarnya agar anak-anak didiknya tidak tertinggal jauh materinya.Yah.itulah dilema seorang guru . Ketika ada wacana tunjangan sertifikasi mau dihapuskan karena alasaan kualitas gurunya yang tidak meningkat-meningkat sah-sahnya saja pemerintah mengambil kebijakan tersebut namun sudah barang tentu harusnya diimbangi juga dengan kebijakan mekanisme sertifikasinya. Sudah berkualitas belum.?. Tunjangan sertifikasi adalah salah satu efek meningkatnya prestasi guru. Guru adalah sebuah pelaku proses karena efek tunjangan tersebut. Permasalahannya apakah sudah benar input tunjangan sertifikasi yang notabene pencairannya sampai tepat ke guru. Wacana satu bulan cair hanya sebuah pepesan kosong bertahun-tahun hingga sekarang, 3 bulan akan cair betul seperti yang diatur PP pengaturan pencairan TPG, .sampai sekarang belum jelas kapan mau keluar bahkan ditambahkan lagi katanya harus ada PKG dulu baru akan dicairkan sepertinya ini program setengah hati. Mau dapat tunjangan saja banyak ini-itunya. Kenapa mesti diperlambat?. Tunjangan sertifikasi sudah terlanjur sebagai bagian nafkah kehidupannya. Apalah jadinya jika diperlambat atau tak jelas keluarnya. Bagi guru swasta tunjangan sertifikasi sangat berarti bagi penghidupan keluarganya andai saja tidak tunda-tunda mungkin saja bisa fokus untuk meningkatkan kualitas dirinya Tapi sekarang tidak lagi menjadi harapan,kini yang ada sekarang berjibaku kembali seperti dulu sehingga kita berharap tidak lagi jatuh kembali guru-guru yang depresi hingga sampai kasus bunuh diri. Belum lagi penyetaraan jabatan dengan kata lain inpassing,selalu saja ada alasan untuk dibuatkan SK Inpassingnya, dari SK Yayasan yang kurang setahun,setelah dibuatkan kemudian diajukan lagi ada lagi alasan lain tak kunjung selesai dan seterusnya dengan berbagai alasan lainnya. Tak taulah apa artinya semua ini. Jadi jika ingin gurunya berkualitas tepatkanlah dulu nafkah tunjang itu terhadap kami baru bicara kualitas guru yang tidak meningkat, Pastinya,rekan-rekan pengajarpun setuju, Tunjangan cair tepat,kualitas gurupun akan dapat. 

Tahun 2012 yang lalu ketika ada forum best practice tingkat nasional yang diselenggarakan oleh depdiknas saat itu . Sempat juga tercetus bahwa sebenanrya tunjangan sertifikasi sumber dananya adalah dari pinjaman dana dari luar – negeri mungkin saja jika telat bisa dipastikan belum dapat pinjaman hutang dari luar negeri. Jika memang benar adanya,Dilemanya juga buat pemerintah yang notabene Depdikbud program sertifikasi harus jalan sementara tunjangan sertifikasi harus juga terbayar. Terlepas dari semua itu kita berharap. Semuanya berjalan dengan lancar .Tak ada lagi dilema dan tak ada lagi program setengah hati. Mari sama-sama kita bangun budaya kualitas. Dari Input (mekanisme pembayaran tunjangan) ,Proses ( Guru sebagai Konsekuensi Logis untuk membangun dirinya berkualitas),,Output (banyak di nikmati baik oleh guru yang menjadi tangguh dan siswanya menjadi berkualitas ) semuanya berkualitas sesuai harapan. Bravo ,Untuk guru berkualitas…..

Read more »

Friday, 24 April 2015

SEANDAINYA AKU BISA

SEANDAINYA AKU BISA
ku tak bermaksud meninggalkan dan menjauhkanmu
membuatmu sedih dan sepi
membuat air matamu mengalir dengan perih
membuat hatimu menjadi sakit dan benci yang membeku
ku tahu
kamu menyayangiku
kamu mencintaiku
dari raga dan jiwamu yang bicara
yang bersandar dalam dadaku
dari ketulusan yang kau berikan
semua padaku
hingga sorotan mata pengharapanmu
seandainya saja aku bisa
ku akan selalu bersamamu
merangkai hari indah
tentang mimpimu yang jauh
dan cerita tentang kekanak-kanakanmu
ku tahu ini bukan kemauanmu
ku tahu ini bukan kesenanganmu
ku tahu ini bukan kebahagianmu
yang kutahu cuma aku
siapa dirimu
kamu adalah mutiara samudra
yang tak pernah memudar cinta kasihnya
yang terpelihara dalam lautan dan gelombang kehidupan asmara kita berdua
maafkan aku,
seandainya bisa
takdir ini milik kita berdua
kita pasti akan bersua
kini , yang kamu harus tahu
cintamu adalah aku.
(tuk gadisku,,maafkan aku..)

Read more »

Cintaku hanya untukmu

Cintaku hanya untukmu

cintaku hanya untukmu
tak ada lagi mendua atau menigakan
seperti ombak yang hanya menepi walau angin mencoba merayunya
seperti bumi yang selalu setia mengitari mentari di siang dan malam

cintaku hanya untukmu
tak ada lain

kesetiaanku tak bisa ditandingi
seperti takdir
ada hitam
ada putih
ada raga
ada jiwa
seperti takdirku
adamu
adaku juga

(untukmu yang satu, vila mutiara bogor)

Read more »

sayap-sayap cinta

sayap-sayap cinta

malam berselimut kegelapan
dingin membawa rindu menjadi
kelakar jangrik seirama dawai kerinduan
melambatkan getar urat nadi
mendengkur menghangatkan kalbu yang mati

sayap-sayap cinta
dekaplah nurani
jagalah cinta
hingga mimpi indahmu tercatat
pada bulu-bulu sayapmu

bulir embun menetes menggores jadi pena keabadian
bahwa aku mencintaimu

(teruntuk cinta ku)

Read more »

Jendela Sekolah; Memori Kita Dulu

Jendela Sekolah,
Memori kita dulu


kaku
kosong
Diam
tak bicara
dengan enam teralis besi yang menuai legam
dengan kaca-kacaenja hari kusam bersimbah debu
itulah jendela sekolah kita
memori kita dulu

tiap kaca yang menggantung
ada kisah antara kita
tentang cinta
tentang kasih
tentang harapan
hingga kerinduan yang mendalam

nyanyian alam di senja hari
melamunkan lonceng berdentang
mengiringi kepergian dua insan memadu kasih

tak ada perbedaan langit dan bumi
kala datang cinta mendera
nurani tak sangup lagi berkata-kata
hingga menyatu dalam irama kerinduan

jendela sekolah;
memori kita dulu

terpatri hingga kimi
tak ada yang tau
termasuk kita??
( 24 september yang lalu....dunia kita )

Read more »

Sunday, 25 May 2014

.ANALISIS SWOT DALAM MENENTUKAN STRATEGI PEMASARAN TAMATAN PADA INSTITUSI PENDIDIKAN DI DUNIA USAHA/DUNIA INDUSTRI



ANALISIS SWOT DALAM MENENTUKAN STRATEGI PEMASARAN TAMATAN  PADA INSTITUSI PENDIDIKAN
DI DUNIA USAHA/DUNIA INDUSTRI


Walan Yudiani
NIM :55313110040
Jurusan Magister Teknik Industri, Fakultas Teknik Universitas Mercu Buana
Korespondensi : Wyudiani@yahoo.com



Abstrak
Artikel  ini  bertujuan untuk mengidentifikasi dan menjelaskan kekuatan ,kelemahan  (lingkungan internal) serta peluang dan ancaman  (lingkungan eksternal) pada institusi pendidikan sehingga dengan  begitu kita dapat merumuskan strategi  pemasaran  tamatan yang tepat pada  Institusi Pendidikan.

A.     Pendahuluan
Salah satu ciri institusi pendidikan yang bermutu adalah dapat merespon kepercayaan masyarakat artinya, bagaimana pihak institusi pendidikan  mampu memberikan pelayanan yang terbaik bagi putra-putrinya sehingga menghasilkan anak-anak yang bermutu dalam segala hal. Mengingat perkembangan dunia IPTEK serta era globalisasi di depan mata maka tujuan untuk menghasilkan lulusan yang sesuai dengan tuntutan masyarakat diantaranya dapat bekerja di dunia usaha/dunia industri selain ada juga yang dimungkinkan berwiraswasta maka pihak institusi pendidikan perlu melakukan pembenahan-pembenahan dalam hal sumber daya manusia yang profesional, manajemen yang handal, kegiatan belajar-mengajar yang berkualitas, adanya akses terhadap lembaga pendidikan yang lebih tinggi lagi baik dalam maupun luar negeri bermutu serta ketersediaan sarana-prasana yang setaraf dengan pendidikan bertaraf internasional. Tantangan yang semakin ketat dalam dunia pendidikan khususnya bagi para pelaksana perencanaan dan manajemen, pengambil kebijakan urusan pendidikan dalam hal ini pemerintah, harus memiliki alat atau peranti untuk mengevaluasi sampai sejauh mana pembangunan pendidikan terutama kinerja layanan pendidikan bagi masyarakat dapat tercapai secara optimal. Salah satu strategi manajerial yang dikembangkan untuk menjamin sebuah organisasi (sekolah) memiliki daya tahan dan daya hidup dari masa sekarang dan berkelajutan sampai masa yang akan datang yaitu dengan melakukan analisis SWOT.Analisis SWOT adalah identifikasi berbagai faktor – faktor sistematis untuk merumuskan strategi sebuah organisasi baik perusahaan bisnis maupun organisasi sosial. Analisis ini didasarkan pada logika yang dapat memaksimalkan kekuatan (Strength), dan Peluang (opportunities), Namun secara bersamaan dapat meminimalkan kelemahan (weaknessess) dan ancaman (threats). Proses pengambilan keputusan strategis selalu berkaitan dengan pengembangan visi, misi, tujuan, dan kebijakan program – program sebuah organisasi. Dengan demikian perencana strategis (Strategic planner) harus menganalisis faktor – faktor strategis organisasi (kekuatan, kelemahan, peluang, dan ancaman) dalam kondisi yang ada saat ini. Model yang paling populer saat ini adalah analisis SWOT.
B.     Kerangka Teori
1.Manajemen Strategi
Definisi manajemen strategi menurut David (2011 : 6) adalah sebagai seni dan ilmu untuk memformulasikan, mengimplementasi, dan mengevaluasi keputusan lintas fungsi yang memungkinkan organisasi dapat mencapai tujuannya. Seperti tersirat dalam definisi, manajemen strategis berfokus pada mengintegrasikan manajemen, pemasaran, keuangan/akuntansi, produk/operasi, penelitian dan pengembangan, dan sistem informasi computer untuk mencapai tujuan organisasi.
Perencanaan merupakan tindakan awal dalam aktifitas manajerial setiap organisasi. Perencanaan strategis adalah instrumen kepemimpinan dan suatu proses. Sebagai suatu proses, ia menentukan apa yang dikehendaki suatu organisasi dimasa depan dan bagaimana usaha mencapainya. Seperti yang ditegaskan oleh Steiss yang disadur oleh Salusu (2006 : 500) bahwa perencanaan strategis sebagai komponen dari manajemen strategis bertugas untuk memperjelas tujuan dan sasaran, memilih berbagai kebijaksanaan, terutama dalam memperoleh dan mengalokasikan sumber daya serta menciptakan suatu pedoman dalam menerjemahkan kebijaksanaan organisasi.
2.Pengertian Pemasaran
Pengertian pemasaran pada organisasi yang berorientasi laba (perusahaan) dengan organisasi nirlaba (sekolah) sangat berbedaPerbedaan yang nyata terletak pada cara organisasi dalam memperoleh sumber dana yang dibutuhkan untuk melakukan berbagai aktivitas operasi. Perusahaan memperoleh modal pertamanya dari para investor atau pemegang saham. Jika perusahaan telah beroperasi, dana operasional perusahaan terutama diperoleh dari hasil penjualan produk yang dihasilkan oleh perusahaan tersebut. Dalam hal ini, perusahaan hanya menghadapi satu unsur pokok, yaitu konsumen. Jika produk yang dihasilkan oleh perusahaan dapat memuaskan para konsumennya, maka transaksi akan terjadi dan perusahaan mempunyai dana untuk dapat melanjutkan aktivitas operasionalnya.
Sebaliknya, organisasi nirlaba (sekolah) memperoleh dana dari sumbangan para donatur atau lembaga induk yang tidak mengharapkan imbalan apapun dari organisasi tersebut. Sebagai akibatnya, dalam sekolah timbul transaksi tertentu yang jarang terjadi dalam perusahaan, yaitu penerimaan sumbangan. Dengan anggaran yang diperolehnya itu, sekolah menghasilkan jasa yang ditawarkan kepada konsumennya (siswa). Berbeda dengan perusahaan, apabila jasa yang dihasilkan sekolah ternyata tidak sesuai dengan kebutuhan dan keinginan siswanya, maka para donatur masih mungkin akan memberi dana lagi jika para donatur masih menganggap sekolah itu baik. Sebaliknya, meskipun jasa yang dihasilkan oleh sekolah itu sesuai dengan kebutuhan dan keinginan siswanya, itu belum menjamin bahwa anggaran para donatur untuk sekolah itu akan meningkat.
Konsekuensi dari perbedaan perusahaan dengan sekolah tersebut adalah bahwa ukuran keberhasilan perusahaan dan sekolah itu berbeda. Perusahaan yang pada dasarnya berorientasi terhadap laba akan dianggap sukses jika berhasil meraup untung yang besar. Sebaliknya, pada sekolah, meskipun berhasil memperoleh dana yang lebih besar dari para donatur, mungkin saja sekolah tersebut gagal dalam memanfaatkan sumber daya tersebut secara efektif dan efisien bagi pemenuhan kebutuhan dan keinginan siswanya. Oleh karena itu, kemampuan sekolah dalam memperoleh sumber daya tidak dapat dijadikan ukuran keberhasilan organisasi sekolah. Dengan demikian, keberhasilan sekolah harus diukur dari sejauh mana jasa yang dihasilkan oleh sekolah tersebut telah memenuhi kebutuhan dan keinginan siswanya.
Menurut Kotler dan Fox (1995), institusi pendidikan memiliki hubungan timbal balik dengan lingkungannya. Hubungan timbal balik ini terkait erat dengan teori pertukaran sosial. Institusi pendidikan memerlukan berbagai macam sumber daya (seperti para siswa, dana, sukarelawan, waktu, dan energi), dan sebagai imbalannya menawarkan pelayanan dan kepuasan. Hal ini sangat bervariasi tergantung pada jenis institusinya. Misalnya, sekolah menyediakan jasa pemeliharaan dan perawatan anak (custodial care), jasa kemasyarakatan, serta penyiapan murid untuk ujian negara. Ada lima bidang pertukaran utama dalam suatu lingkungan institusi pendidikan, yaitu:
a). Lingkungan internal, yaitu kelompok kelompok di dalam organisasi sekolah.
b). Lingkungan pasar, yaitu kelompok kelompok yang menyediakan sumber daya bagi organisasi sekolah.
c). Lingkungan publik, yaitu masyarakat yang pandangannya dapat mempengaruhi organisasi sekolah dan cara kerja organisasi sekolah.
d). Lingkungan kompetitif, yaitu institusi institusi pendidikan yang bersaing di dalam pasar dan/atau untuk mendapatkan dukungan masyarakat.
e). Lingkungan makro, yaitu kerangka kebijakan dan administratif yang lebih luas di mana organisasi sekolah diselenggarakan.
Joewono (2008) menjelaskan pengertian pemasaran jasa sebagai suatu konsep pemasaran yang mendefinisikan bahwa organisasi harus lebih peduli terhadap apa yang dirasakan konsumen dibanding apa yang dipikirkan konsumen tentang produk/jasa yang mereka tawarkan. Di dalam pemasaran jasa, lebih penting mengetahui bagaimana cara menawarkan produk/jasa daripada apa yang ditawarkan produk/jasa. Jadi, pemasaran jasa bertujuan untuk menciptakan memorable experience bagi konsumen.
3. Bauran Pemasaran
Menurut Kotler (2000), Bauran pemasaran adalah suatu perangkat pemasaran yang dapat digunakan oleh perusahaan dalam mencapai tujuan pemasaran dalam target pasarnya. Bauran pemasaran adalah kombinasi variabel atau kegiatan yang merupakan inti dari sistem pemasaran perusahaan yaitu product, price, promotion, place, disingkat menjadi 4P.
a)      Product (produk)
b)      Price (harga)
c)      Promotion (promosi)
d)      Place (tempat/saluran distribusi)
Namun bagi sektor jasa, komponen-komponen tersebut ditambah 3P, yaitu: orang (Person), proses (Process), dan bukti (Proof). Strategi campuran ini akan dijelaskan lebih lanjut oleh James dan Phillips di bawah ini.
James dan Phillips (1995) menggunakan kerangka teoritis tersebut untuk mengevaluasi praktek pemasaran pada 11 sekolah, termasuk sekolah dasar, sekolah menengah, sekolah negeri, dan sekolah swasta, yang beroperasi dalam lingkungan yang kompetitif. Hasil penemuan dari penelitian tersebut dapat dirangkum sebagai berikut.
a)      Produk, yaitu fasilitas dan pelayanan yang ditawarkan oleh sekolah. Meskipun sekolah yang disurvei sangat giat dalam menawarkan produk/pelayanan yang berkualitas, namun sejumlah masalah masih dapat ditemukan, seperti:
1)      Kurangnya pertimbangan pada ragam penawaran. Sebagian besar sekolah cenderung memberikan terlalu banyakpenawaran. Sekolah seharusnya melakukan spesialisasi pada suatu hal tertentu.
2)      Adanya kebutuhan untuk melihat pelajaran, yakni keuntungan apa yang akan didapatkan pelanggan (siswa) daripada hanya memberikan gambaran umum tentang kandungan materi yang ada dalam pelajaran tersebut.
3)       Adanya kebutuhan untuk memastikan bahwa kualitas dilihat dalam arti terpenuhinya kebutuhan pelanggan daripada kualitas pelajaran itu sendiri.
4)      Hanya ada sedikit perhatian akan“potensi hidup” dari pelajaran tersebut.
b)      Harga, yaitu pembiayaan (costing) yang membandingkan pengeluaran dengan keuntungan yang didapat pelanggan, serta penetapan harga (pricing) atau harga yang dikenakan kepada pelanggan. Hal ini terlihat jelas pada sekolah swasta karena pilihan pasar sangat terbuka untuk calon orangtua, yaitu antara “sekolah swasta yang mahal” dan “sekolah negeri yang bagus dan gratis”. Akan tetapi, hal ini adalah persoalan penting bagi sekolah negeri karena:
1)      Proses perekrutan siswa mengarah kepada tambahan dana dari pemerintah.
2)      Dukungan dana sponsor dari anggota komunitas pebisnis lokal.
3)      Biaya yang dikenakan dan sumbangan orang tua untuk fasilitas tambahan dan aktivitas ekstrakurikuler.
c)      Lokasi, yaitu kemudahan akses dan penampilan serta kondisinya secara keseluruhan. Ketika sekolah memperhatikan masalah penampilan (misalnya melalui dekorasi, tampilan, dan ucapan selamat datang kepada pengunjung), maka akan semakin berkurangnya perhatian yang diberikan kepada masalah akses (seperti parkir untuk pengunjung, akses bagi penyandang cacat, konsultasi di luar sekolah, dan mesin penjawab telepon).
d)      Promosi, yaitu kemampuan mengkomunikasikan manfaat yang didapat dari organisasi bagi para pelanggan potensial. Meskipun sekolah telah aktif pada sebagian besar aktivitas promosi ini, namun dari 11 sekolah yang disurvei, hanya terdapat kurang dari setengahnya yang telah mengiklankan diri.
e)      Orang, yaitu orang yang terlibat dalam menyediakan jasa. Masalahnya adalah tidak semua karyawan sekolah menyampaikan pesan yang sama kepada orang tua dan kelompok lain di luar sekolah. Hal ini terkait dengan budaya sekolah yang tidak sepenuhnya mengambil pendekatan yang berorientasi pada pasar.
f)        Proses, yaitu sistem operasional untuk mengatur pemasaran, dengan implikasi yang jelas terhadap penempatan karyawan sekolah dalam hal pembagian tanggung jawab untuk mengkoordinasikan dan mencari sumber daya bagi strategi pemasaran sekolah. Dari 11 sekolah yang disurvei, tidak ada satupun sekolah yang memberikan kepercayaan kepada seorang karyawan sekolah atas tanggung jawab tersebut, dimana pengelolaan dan operasinya cenderung tidak terencana dan intuitif, bukan terencana secara strategis dan sistematis.
g)      Bukti, yaitu bukti yang menunjukkan bahwa pelanggan akan mendapatkan manfaat sehingga memunculkan pertanyaan mengenai pengawasan dan evaluasi (seperti hasil ujian). Hasil penelitian tersebut menunjukkan bahwa sekolah tidak dapat mengemukakan aspek-aspek apa saja dari tindakan mereka yang menunjukkan bukti dari manfaat pelayanan yang diberikan kepada pelanggan.
Dari 7P di atas, penekanan utamanya terpusat pada produk sekolah. Sekolah masih belum menetapkan strategi jangka panjang karena sebagian besar kebijakan sekolah dalam bentuk strategi jangka pendek yang tidak terencana serta reaktif (manajemen krisis sebagai respon terhadap menurunnya peran dan meningkatnya persaingan setempat). Banyak sekolah belum melakukan pengamatan pasar dengan menggunakan riset dan analisis pasar yang sistematis. Sekolah lebih menyukai strategi pasar tunggal, yang memberikan “semua hal bagi semua siswa yang potensial” daripada menekankan adanya perbedaan dan penyediaan khusus sebagai salah satu cara untuk menangkap potensi pasar. Pada saat yang sama, sekolah menghindari persaingan yang tidak berguna dan mempromosikan kerjasama dengan penyedia lokal lainnya. Strategi pemasaran campuran termasuk kategori strategi pemasaran tradisional, yaitu pemasaran yang berorientasi pada transaksi (relationship marketing) sebagai kunci untuk keberhasilan komersial. Jika kita dapat menarik pelanggan, maka kita harus terus membangun hubungan baik dengan mereka serta menumbuhkan kepercayaan jangka panjang untuk menciptakan promosi “mulut ke mulut” (Gronroos, 1997).
4.Institusi Pendidikan dan DU/DI
   Institusi pendidikan disini  dibatasi pada Sekolah menengah kejuruan dan Pendidikan tinggi. Menurut peraturan pemerintah No.60 tahun 2010 bahwa Sekolah menengah kejuruan adalah Sekolah Menengah Kejuruan, yang selanjutnya disingkat SMK, adalah salah satu bentuk satuan pendidikan formal yang menyelenggarakan pendidikan kejuruan pada jenjang pendidikan menengah sebagai lanjutan dari SMP, MTs, atau bentuk lain yang sederajat atau lanjutan dari hasil belajar yang diakui sama atau setara SMP atau MTs. Sementara Pendidikan Tinggi  adalah jenjang pendidikan pada jalur pendidikan formal setelah pendidikan menengah yang dapat berupa program pendidikan diploma, sarjana, magister, spesialis, dan doktor, yang diselenggarakan oleh perguruan tinggi.
Dunia usaha (DU) / Dunia Industri (DI) adalah tempat yang merupakan poros dari bergeraknya segala sesuatu yang inovatif, dengan teknik yang berbeda, untuk menghasilkan kesejahteraan orang banyak yang di pimpin oleh seorang yang kreatif yang disebut dengan entrepreneur.
C.     Pembahasan
Analisis SWOT
Analisis SWOT merupakan cara untuk menganalisis strategi pemasaran tamatan pada Institusi pendidikan  dalam lingkungan internal maupun eksternalnya, yang bertujuan untuk mendeteksi serta merumuskan kebijaksanaan yang sifatnya strategi bagi Institusi pendidikan. Adapun Implementasi strategi untuk bidang fungsi pemasaran yaitu dimulai dengan mempertimbangkan bauran pemasaran (marketing mix), yakni produk, harga, saluran distribusi,  promosi, orang, proses dan bukti. Bauran dari unsur-unsur pemasaran tersebut harus tepat, dan rencana-rencana dari setiap unsur tersebut juga harus tepat. Bauran pemasaran merupakan variabel yang dapat dikendalikan oleh organisasi institusi pendidikan untuk melakukan penyesuaian-penyesuaian terhadap target pasar atau mempengaruhi target pasar tersebut. organisasi institusi pendidikan harus mengembangkan strategi-strategi dengan mengsinkronisasikan unsur-unsur bauran pemasaran untuk mencapai sasaran yang sama.
Untuk memberikan gambaran yang jelas  pada analisis SWOT perlu dibuat variabel-variabel  atau obyek yang akan dianalisis berdasarkan  beberapa analisis lima bidang pertukaran utama dalam suatu lingkungan institusi pendidikan, yaitu:
a). Lingkungan internal, yaitu kelompok-kelompok di dalam organisasi sekolah.
b). Lingkungan pasar, yaitu kelompok-kelompok yang menyediakan sumber daya bagi organisasi sekolah.
c). Lingkungan publik, yaitu masyarakat yang pandangannya dapat mempengaruhi organisasi sekolah dan cara kerja organisasi sekolah.
d). Lingkungan kompetitif, yaitu institusi- institusi pendidikan yang bersaing di dalam pasar dan/atau untuk mendapatkan dukungan masyarakat.
e). Lingkungan makro, yaitu kerangka kebijakan dan administratif yang lebih luas di mana organisasi sekolah diselenggarakan
Dan ditambah dengan pendekatan fungsional yang hanya dibatasi pada fungsi pemasaran saja melalui pendekatan bauran pemasaran dengan 7 variabel yaitu produk,harga,tempat,promosi ,orang,proses dan bukti. Dalam analisis SWOT data yang digunakan adalah sebagai berikut :
a)      Dalam sel Opportunities (O), dirumuskan beberapa peluang yang dihadapi oleh Institusi Pendidikan. Hal ini harus mempertimbangkan deregulasi pendidikan sebagai salah satu faktor strategis.
b)      Dalam sel Threats (T), menentukan beberapa ancaman yang dihadapi institusi pendidikan.
c)      Dalam sel Strengths (S), menentukan beberapa ancaman yang dihadapi institusi pendidikan.
d)      Dalam sel Weaknesses (W), menentukan beberapa kelemahan yang masih membelit institusi pendidikan.
e)      Merumuskan beberapa kemungkinan alternatif strategi institusi pendidikan berdasarkan pertimbangan kombinasi empat peluang faktor strategi tersebut, yang terdiri dari :
1)      Strategi SO,Strategi ini dibuat berdasarkan suatu jalan pikiran, yaitu bagaimana institusi pendidikan menggunakan seluruh kekuatan untuk memanfaatkan peluang.
2)      Strategi ST,Strategi ini untuk menggunakan kekuatan yang dimiliki institusi pendidikan dengan cara menghindari ancaman.
3)      Strategi WO, Strategi ini diterapkan dengan memanfaatkan peluang yang ada dan mengatasi kelemahan-kelemahan yang dimiliki.
4)      Strategi WT,Strategi ini didasarkan pada kegiatan yang bersifat defensif dan ditujukan meminimalkan kelemahan yang ada serta menghindari ancaman.
Selanjutnya dengan menggunakan faktor strategis baik internal maupun eksternal sebagaimana telah dijelaskan dalam tabel EFAS dan IFAS, lalu melanjutkan tahap satu sampai dengan enam diatas. Transfer peluang dan ancaman (tahap satu dan dua) dari tabel EFAS serta tambahkan kekuatan dan kelemahan (dari tahap ketiga dan keempat). Berdasarkan pendekatan tersebut, dapat dibuat berbagai kemungkinan alternatif strategi (SO, ST, WO, WT)


 

IFAS





EFAS
Strengths(S)
1. Motivasi pendidik dengan peserta didik
2. Hubungan personality antar pendidik dan peserta baik inter maupun ekstrakurikuller
3.Pendidik melakukan varian metode dan pendekatan mengajar sesuai perkembangan jaman.
4. Status strata pendidik
5. Memiliki diferensasi unggulan
6. Kerja sama dengan beberapa Dudi .
7. Link dengan institusi pendidikan luar negeri

Weaknesses (W)
1. Rekrutmen pendidik dan tenaga pendidik.
2. Pendidik  dan tenaga pendidik berstatus tidak tetap.
3. Penerimaan peserta didik baru/pindahan.
4. Pembiayaan Orang tua
5.Fasilitas pembelajaran seperti perpustakaan.
6. Perawatan gedung dan penambahan sarana
7. Pemasaran tamatan





Opportunites (O)
1. Dukungan Pemerintah dalam membantu sarana dengan cara mengajukan proposal
2.Banyaknya pelatihan untuk pendidik yang dibiayai pemerintah.
3. Pemerintah menyediakan beasiswa untuk melanjutkan ke jenjang yang lebih tinggi.
4. DU/DI memiliki grade diatas rata-rata di bidang MIPATEK untuk bergabung ditambah Soft Skill yang mumpuni
5. Banyaknya kegiatan minat dan bakat peserta didik  sampai dengan tingkat Internasional.
6. Dukungan Masyarakat untuk mencari institusi pendidikan yang berkwalitas.
7.Program pemerintah melalui BIDIK MISI.
8. Pendidikan di luar negeri banyak mengeluarkan beasiswa gratis.
9. Adanya program Sertifikasi Pendidik dari Pemerintah

Strategi (SO)
1. Mengikuti Program beasiswa gratis .(S4, O3).
2.Aktifkan dengan keunggulan Ekstrakokurikuler yang tangguh  sebagai ciri khas diferensiasi institusi pendidikan (S5,O5).
3. Pengajaran MIPATEK lebih kontinyu dan terukur serta pembiasaan berbudaya dan pekerti yang baik  terintegrasi pada kurikulum dan kehidupan kampus atau sekolah lebih ditingkatkan dan dihidupkan kembali.(S6,S8,O4)
4. Kerjasama secara vertikal dan horizontal pada pendidikan di luar negeri. (S7,O8)

Strategi (WO)
1.Melalui program bidik misi membantu pembiayaan orang bagi peserta didik yang berprestasi (W4,O7).
2. Mengajukan proposal sarpras ke pemerintah (W5,W6,O1).
3.Pengajuan  pendidik mengikuti program sertifikasi untuk mengikat menjadi  pendidik tetap (W2,O9)
3.Bentuk Bursa Kerja Khusus (W7,O4)
Threats (T)
1. Banyaknya Institusi pendidikan yang setingkat dan berkwalitas.
2.Lingkungan Sosial masyarakat
3.Kemajuan Iptek yang terus berkembang.
4.Persaingan global

Strategi (ST)
1. Status strata pendidik ditingkatkan (S4,T1).
2. Pendekatan ,metode dan model belajar bervarian sesuai tuntutan jaman (S3, T1).
3. Sinergis dengan dunia usaha dan industri lebih digiatkan agar tamatan sesuai apa yang dibutuhkan pelaku usaha /industri (S6,T1)
4. Hubungan civitas akademika dan masyarakat terus dikembangkan dan digali (S2,T2).
5. Budaya rasa ingin tahu terus digali kepada civitas akademika (S1,T3)
Strategi (WT)
1.Tamatan sebelum ditawarkan adakan pelatihan psychology kerja dan wajib memiliki kemampuan bahasa inggris,bahasa mandarin sebagai bahasa pasar global (W7,T4).
2. Perekrutan pendidik dan tenaga pendidik lebih memperhatikan kemampuan soft dan hard skill (W1,T3)




D     Kesimpulan
Jika hasil analiss SWOT pada Institusi pendidikan seperti diatas maka strategi pemasaran tamatan pada Intitusi pendidikan adalah sebagai berikut:
  1. Pengajaran MIPATEK lebih kontinyu dan terukur serta pembiasaan berbudaya dan pekerti yang baik  terintegrasi pada kurikulum dan kehidupan kampus atau sekolah lebih ditingkatkan dan dihidupkan kembali  karena permintaan pasar DU/DI yang demikian itu.
  2. Bentuk Bursa Kerja Khusus.
  3. Sinergis dengan dunia usaha dan industri lebih digiatkan agar tamatan sesuai apa yang dibutuhkan pelaku usaha /industri.
  4. Tamatan sebelum ditawarkan adakan pelatihan psychology kerja dan wajib memiliki kemampuan bahasa inggris,bahasa mandarin sebagai bahasa pasar global

Daftar Pustaka

David, Fred. R, 2011. Strategic Management: Consepts and Cases, 13th Ed.
Suhartini, 2012. Analisis Swot dalam Menentukan Strategi Pemasaran,  Jurnal Matrik Teknik Industri Universitas Muhammadiyah. Gresik, Maret 2012 : 1-7.
Wijaya David, 2008. Pemasaran Jasa Pendidikan Sebagai Upaya Meningkatkan Daya Saing Sekolah, Jurnal Pendidikan Penabur - No.11/Tahun ke-7/Desember 2008  : 42-56.
_________, Pengelolaan dan Penyelenggaraan Pendidikan.Peraturan Pemerintah No.66 tahun 2010 .

Read more »

Wednesday, 23 April 2014

TRAINING ASESOR KOMPETENSI NASIONAL





TRAINING ASESOR 
KOMPETENSI NASIONAL

Autolab bersama Lembaga Sertifikasi Teknik Otomotif Indonesia (LSP- TO INDONESIA) mengadakan program Training Asesor Kompetensi Nasional yang akan diselenggarakan pada tanggal 7 -11 Mei 2014 bertempat di Pusat Pelatihan PAM Bekasi Jawa Barat.

Persyaratan Peserta :
1 . Peserta harus bisa mengoperasikan Komputer/Laptop minimal   
     program word dan exsel
2. Peserta Training Wajib membawa Laptop dan Flashdisc.
3. Peserta membawa/mengumpulkan foto terakhir (berwarna ,latar 
    belakang merah ) 2x3 sebanyak 4 lembar, dan 3 x4 sebanyak 
    4 lembar.
4. Peserta membawa FC Ijazah terakhir 4 lembar dan sertifikat 
    training teknis maupun teknis (jika ada) masing-masing 4 lembar.
5. Konfirmasi dan pendaftaran terakhir tanggal 2 Mei 2014 dan 
    ditutup lebih awal jika kuota maksimal ( 20 peserta) sudah 
     terpenuhi.
6. Membayar biaya training ( Rp. 4.000.000,-) paling lambat pada
    saat konfirmasi terakhir melalui transfer ke Bank BCA No. Rek.
    244.005.1416 A.n. Moch. Jumari atau Bank Mandiri No. Rek. 
    1560005978731. A.n. PT Trikarya Nusatama dengan fasilitas 
    diantaranya :Modul training standar TAA,Sertifikat Kepersertaan
    Training Asesor Kompetensi (Sertifikat Atedance) dari Autolab,
     Sertifikat Kompetensi Metodelogi Asesor Kompetensi Nasional 
     Dari BNSP bagi yang memenuhi persyaratan dan direkomenda-
     sikan, Konsumsi selama training,Hotel dan real asesmen selama
     4 malam.

     Jika diperlukan informasi lebih lanjut menghubungi kami baik melalui email di autolab.tn@gmail.com atau
     moch.jmr@gmail.com maupun ke  Drs. Jumari 
     no.Hp 0818911631 atau 02146243042
 



Read more »